Ini adalah ketiga kalinya saya mengunjungi Museum Gajah a.k.a Museum Nasional yang terletak di seberang Monas.
Kunjungan pertama di pertengahan tahun 2007 hanya didorong oleh rasa ingin tahu sebagai warga baru Jakarta yang cukup sering melewati museum di sebelah kantor Departemen Pertahanan RI ini. Karena memang tidak terencana, saat itu saya hanya berangkat sendiri dengan berbekal kamera poket. Alhasil, sulit sekali untuk membuat bukti diri pernah datang ke museum gajah he he he ..... (penting :p) . Namun tak dinyana, ternyata saat menjelang pulang saya bertemu dengan teman lama yang sudah lebih dari setahun tidak bertemu....uhui.......akhirnya bisa juga mendokumentasikan diri ini....he he he.....
Kunjungan kedua, di awal tahun 2008, bersama sepupu saya yang sedang pulang dari perantauan ke negeri seberang, yang meskipun lama tinggal di Jakarta tetapi belum pernah mengunjungi museum ini (benar begitu kan ? Jeng :D ) . Namun sayang, peraturan baru telah diterapkan "DILARANG MENGAMBIL POTO DI DALAM MUSEUM" . Hix....alhasil kami hanya dapat mendokumentasikan diri bersama gajah yang selalu ngeceng di depan bangunan tua museum.
Kunjungan ketiga masih dalam bulan yang sama dengan kunjungan kedua, kali ini dalam rangka menemani teman kantor yang berasal dari negeri yang menolak pemutaran dan pembuatan film Anna and The King di negerinya. Pertanyaan pertamanya adalah mengapa diberi nama museum gajah ? Whatchaa......saya sendiri juga bertanya2 tapi selalu lupa untuk menanyakan hal tersebut setiap kali berada di museum ini. Akhirnya pada kunjungan ketiga ini terjawablah bahwa alasan pemberian nama "Museum Gajah" adalah karena di halaman depan museum kuno itu berdiri sebuah patung Gajah kecil yang terbuat dari perunggu. Aha.....yang lebih menarik lagi, ternyata gajah itu adalah pemberian Raja yang berasal dari negeri yang sama dengan teman saya itu, Raja Chulalongkorn dari Thailand. Raja yang dekat dengan masyarakat kecil, yang senang menyamar menjadi rakyat biasa hanya untuk mengetahui apakah roda pemerintahan yang dipimpinnya sudah berjalan dengan benar. Raja yang memiliki banyak istri, suangat buanyaaak. Begitu kesan teman saya tersebut.
Kami memasuki bangunan museum yang lama. Setelah melewati ruang berbagai arca, kami memasuki kamar pertama di sebelah kiri pintu masuk. Ternyata ruang tersebut berisi barang-barang dari Thailand, sebagai ucapan terimakasih pihak museum kepada Raja Thailand. Jadilah saat itu teman saya yang menjadi guide dan menerangkan beragam benda di dalamnya he he he.........
Dari kunjungan saya yang pertama hingga ketiga ini museum gajah telah melakukan banyak perubahan yang signifikan dalam bentuk penyajiannya. Mulai dari kunjungan kedua ini, museum gajah telah memiliki bangunan baru di sebelah bangunan lama yang berisi barang-barang antik nusantara yang ditata dengan modern. Penyajiannya dilakukan dengan amat serius, tiap lantai memiliki tema sendiri-sendiri, interiornya berkesan modern begitu juga dengan pelayanannya, sangat baik. Nampak bahwa pemerintah mulai serius menangani sejarah bangsanya (semoga...).
