Wednesday, September 26, 2007

Serious mode ON


Sudah sejak hari Senin kemarin, hawa serius menyelimuti pikiran. Sampai email yang harusnya bisa ditanggapi dengan santai, kujawab seakan sedang memberikan pengarahan P4. Semua-semua direspon dengan serius. Perasaan mulai sensitif dan melow yang not senses.
Ini pasti karena hormon !!!

Serius mode ON

Friday, September 21, 2007

Félicité

Jujur posting kali ini terinspirasi dari blog tetangga mengenai kebahagiaan. Dahulupun saya pernah curiga bahwa kebahagiaan adalah hasil dari kemampuan otak atau pikiran untuk hanya berpikir hal-hal yang menyenangkan hati atau tepatnya menyenangkan pikiran si empunya. Bila kecurigaan itu benar, secara tidak langsung saya mengakui bahwa segala macam bahan adiktif (misal narkoba) adalah salah satu sumber kebahagiaan. Postulat itupun dengan mudah terpatahkan.


Pernah juga terpikir, bahagia itu adalah ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki keinginan. Namun istilah ini agaknya masih belum tepat, karena tidak memiliki keinginan menimbulkan berbagai prasangka negatif, mati rasa lah, tak berpengharapanlah dan lain-lain, walaupun yang dimaksud bukan itu.


Kalau mau ditarik dari sisi spiritual, semua ajaran agama yang berasal dari Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang diraih melalui tata cara tertentu. Benang merah yang menghubungkan ke-konsistenan suatu ajaran-Nya adalah tercantumnya tuntutan akan kepasrahan total kepada-Nya untuk meraih kebahagiaan. Nha....ini dia yang sering menimbulkan perdebatan. Tuhan tidak pernah men-deklarasikan bahwa yang namanya pasrah kepada-Nya adalah berdiam diri, tidak berusaha apa-apa seperti sapi dicocok hidungnya (eh sapi dicocok hidungnya juga masih berusaha untuk berjalan ding). Padahal jelas-jelas diterangkan di setiap ayatnya bahwa seorang manusia haruslah berusaha . Kalau dua perintah itu dianggap berlawanan, tentu saja tidak benar. IMHO (in my humble opinion) yang dimaksud pasrah adalah sifat/pengakuan hati seorang manusia untuk menghamba kepada Tuhan-Nya.

Dalam bagan skema jiwa manusia karya putra bangsa, Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, kepasrahan itu tidak terletak pada angan-angan /otak yang berpikir untuk menyerah, tetapi terletak pada ego, tepatnya penyerahan ego. Pasrah itu selalu dibarengi dengan penundukkan ego diri kepada sesuatu dzat (bukan zat) yang Maha Berkuasa. Ibarat sesajen, penyerahan kedaulatan ego kepada-Nya adalah sesajen untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya yang artinya beroleh kebahagiaan.


Indoktrinasi penyerahan kedaulatan ini sering digunakan sebagai bagian dari pencucian otak sekelompok aliran kepercayaan radikal tertentu yang selalu mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya semisal terrorre'jing eh....teroris. Bila benar apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari penyerahan ego kepada Tuhan YME, tentulah tidak ada lagi arogansi kebenaran pribadi dengan menganggap salah keyakinan orang lain. Logikanya begini, para teroris tersebut membunuh orang dengan alasan korban-korbannya adalah orang kafir yang pantas dibunuh, itu artinya mereka meremehkan kemampuan Tuhan untuk secara pribadi membunuh atau tidak menciptakan orang-orang kafir tersebut. Logikanya mereka harus berpikir juga bahwa semua ada/terjadi karena suatu alasan. Ah...tapi saya tidak mau berdebat mengenai logika para terrorre'jing itu karena sudah menjadi rahasia umum pada dasarnya mereka bertindak dengan tidak menggunakan logika tetapi suatu kepentingan dengan berselubungkan suatu keyakinan.


Berlawanan dengan para terrorre'jing tersebut, seseorang yang memang sudah menyerahkan kedaulatannya tidak melakukan agresi dengan menyerang atau melawan sesuatu yang menimpanya. Melainkan menerima dengan legawa kemudian menyesuaikan diri terhadap "serangan" tersebut. Mungkin sama dengan konsep bela diri aikido yang pernah diterangkan teman kantor saya dan artikel ini . Dari yang pernah saya ketahui mengenai aikido ini tidak ada teknik menyerang ataupun melawan (CIIW - correct me if i'm wrong) , dari yang pernah saya lihat teknik aikido cenderung menerima serangan lawan kemudian mengontrolnya sesuai "keinginan" kita. Sangat menarik. Oleh karena itu ketika seorang teman bercerita mengenai perilaku seorang temannya,saya sarankan teman saya tsb untuk menyuruh temannya itu (temannya teman saya) berlatih aikido, mungkin bisa membantu apa yang dianggap masalah bagi teman saya itu (nah loh....bingung ngga antara teman dan temannya teman :p ).


Kembali ke kebahagiaan. Dari buku karya seorang jawa Bp. Soenarto M. berjudul Olah Rasa di Dalam Rasa, saya setuju bahwa seseorang akan bahagia bila ia tidak terikat oleh sesuatu yang ada di dunia ini, dengan kata lain sudah ikhlas. Kabar buruknya ikhlas tidak bersifat heredity dan tidak terkode-kan dalam gen seorang anak manusia. Kabar baiknya we're still alive he he he....... . Untuk penjelasan mengenai keterikatan ini saya ambilkan dari tulisan beliau :
.....Adapun keterikatan itu disebabkan oleh pekertinya cipta (pikir) dan bergeraknya angen-angen yang mengadakan bayangan atau gambaran aneka rupa tentang hal-hal yang kaucintai....


Lalu, apakah salah bila mencintai sesuatu ? Ah....tentu saja tidak, seperti apa yang pernah ditulis oleh mbak ini . Namun dari yang pernah saya alami, mencintai diri sendiri dengan terlalu berlebihan, banyak menimbulkan pamrih yang melahirkan ketidakbahagiaan . Tulus mengalah dengan tidak membela diri bila tidak diperlukan, membiarkan orang lain bahagia dengan caranya sendiri, sering menimbulkan kebahagiaan yang bukan hanya sekedar sensasi seperti sensasi kembang api di malam Tahun Baru. Percaya saja akan sifat keadilan-Nya, yang bukan hanya sekedar Adil tetapi MAHA adil. Apa yang saya terima, pasti pernah saya lakukan. Entah kapan & di masa apa. Untuk itu, perkenankanlah saya menyampaikan :


Mohon maaf lahir dan batin


Semoga 26 tahun kehidupan ini telah mengurangi keburukan yang pernah tertanam dan menjadi momentum untuk hanya menanam kebaikan.


Ijinkanlah saya tutup postingan kali ini dengan sebuah kutipan dari tulisan psikiater besar Indonesia, Prof. Soemantri Hardjoprakoso sebagai berikut :

.........................
Siapa masih tergoda oleh keadaan dunia besar ini, masih belum suci.
Siapa masih ingin menjalankan suatu prestasi, sekalipun prestasi itu baik, ternyata belum tenang.
Siapa masih ingin memberantas apa-apa yang jahat dan buruk, ternyata belum damai.
Siapa masih membenci apa-apa yang tidak baik, ternyata belum sayang


..........................
(Arsip Sarjana Budi Santosa - Prof. Soemantri Hardjoprakoso)

Saturday, September 15, 2007

nothing

Blog kali ini mau diisi curhat ahhh.......buat yang ngerasa ga penting disarankan ga usah baca karena emang ga penting ^_^

Hmm.....apa ya yang teringat dan mau di-ingat dari kejadian akhir2 ini...
Oh ya, mulai dari cerita pulang kantor.
Terkadang saya pulang kantor dengan berjalan kaki sepanjang jalan Sudirman, yah........hitung2 olah raga setelah lebih dari 5 jam duduk melulu di depan komputer, sembari ngobrol ngalor ngidul bareng temen2 kantor. Nah, dalam perjalanan pulang itu tiba2 seorang teman nyeletuk "Sa' penake udhele dhewe" , saya lupa pastinya penyebab celetukan itu, tapi terkait dengan polah pengguna jalan dalam kemacetan di jalan sudirman. Secara dia baru 7 tahun tinggal di tanah tumpah darah nenek moyangnya, masih belum terbiasa dengan cara pengemudi negeri ini mengendarai mobilnya. Dari situ perbincangan bermula,
He : "Tahu ga kenapa Indonesia jadi kacau gini ?"
Me : "Kenapa ?"
He : "Karena orang-orangnya bermental udel."
Me : "Maksudnya ?"
He : "Lihat saja, tuh motor berjalan di trotoar. Mobil ga ada yang mau ngalah di persimpangan, padahal udah ada aturannya mobil mana yang harus didahulukan. Itu kan sa'penake udhele dhewe tho ?"
Ha ha ha ha, saya hanya terbahak dengan pernyataannya itu.
Sedikit perkenalan dengan teman saya ini, ia adalah orang Indonesia yang dibesarkan di Israel, pernah tinggal di Ethiopia dan berkuliah di negeri paman sam untuk kemudian memilih bekerja di Indonesia. Lima tahun tinggal di Yogyakarta cukup untuk membuatnya akrab dengan celetukan2 jowo seperti "Sa'penake udhele dhewe" . Dari situ perbincangan berlanjut hingga betapa pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter suatu bangsa. Betapa berpengaruhnya sikap orang tua terhadap pembentukan watak seorang manusia. Hingga diperlukannya kemauan dan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri demi memutuskan rantai kekerasan. Perbincangan yang sangat menarik, bila sempat akan saya tuliskan di blog ini :)

Pertemanan
Kayaknya dulu saya punya teman, lalu ga ada kabarnya dan tiba-tiba saja saya direpotkan oleh teman-temannya, dan teman saya itu masih menghilang (atau memang tidak pernah ada? ) . Dan....saya memutuskan : Case Closed untuk kedua kalinya pada dua orang yang berbeda. Semua sudah termaafkan dan terlupakan , tapi masih dalam tahap menata hati , so don't disturb me with all of those questions please..........okeh ;)

Asmara
For her : Trust me, if a man love a woman he'll come to you (remember the philosophy of sperm ). If he make a distance to you.....yeah bad news, he just not into you, or......he need time......... But it's okay, at least you are still alive , so move on!

Rohani
Masih berproses dan berproses......semakin sadar betapa banyak hal yang perlu diperbaiki.... I think Thy wait for me before that miracle ;) .

Gossip
Beruntung punya mba'e dan spupu tercinta, dua orang yang bisa mengembalikan dan mengingatkanku ke jalan yang benar sementara belum ada seseorang itu he he he........ Merci....merci....sudah mau digangguin dengan cerita2 childish(aku aja ngerasa garing, tapi tuetep pengen cerita :p ) don't take it seriously ya.....I'm fine, just need to talk and share my upset he he he ;)

Keluarga
Barusan ngado ultah ayah tercinta sebuah hp cdma (urunan sama nyokap 95:5 --> gw yang 5 :p ) . Karena tidak ada teman atau saudara yang memakai nomor FREN, sukseslah saya menjadi satu-satunya target yang ditelepon setiap pagi. Dan pagi ini jawabnya hanyalah "Arh....dad.....I wanna wake up late....Zzzz............."

Relationship
Belajar dari pengalaman mba'e, untuk mulai menyadari status diri dan usia , agar berhati2 dalam berhubungan dengan lawan jenis supaya tidak ada yang perlu kecewa dan tersakiti he he he.....makanya mbak.....(loh?!?!?!) kidding ;p

Kerjaan
I'm lovin it ;)


NB :
Sa' penake udhele dhewe (jawa) = Seenaknya pusarnya sendiri (Indonesia) --> Seenaknya sendiri

Friday, September 7, 2007

Maaf

Akhirnya Malaysia minta maaf menjadi topik hangat di media massa tanah air sepekan ini. Kompas hari ini memuat komentar Amien Rais mengenai cara meminta maaf Malaysia yang melalui telepon dinilainya tidak seperti dengan apa yang diharapkan bangsa Indonesia.
Permintaan maaf ini baru dikeluarkan setelah beberapa hari kasus terjadi dan setelah berbagai kecaman serta desakan dari beberapa elemen masyarakat di Indonesia.

Cara sang perdana menteri yang hanya meminta maaf melalui telepon pun dipermasalahkan.

Yah, Maaf, kata yang hanya terangkai dari 3 huruf.

Saya tidak tahu mengenai tata cara permohonan maaf antar negara. Kata jubir kepresidenan, pernyataan maaf melalui telepon itu memiliki tingkat keseriusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan melalui konferensi pers. Tapi waktu saya balita, orang tua mengajarkan (insya Allah akan saya ajarkan juga pada keturunan saya kelak ^_^ ) bila akan meminta maaf haruslah menemui orang tersebut serta berjabat tanganlah lalu ucapkan kata maaf. Email berantai berformat .pps yang sering diterima malah mengatakan bahwa salah satu resep hidup bahagia dari Cina adalah dengan meminta maaf bila berbuat salah dengan cara pandanglah mata orang tersebut serta katakanlah : maaf.

Berkaitan dengan permintaan maaf Malaysia, menurut saya (menurut saya lho....yang bisa saja salah) bila itu dilakukan karena desakan dari Indonesia supaya mereka meminta maaf, sangatlah tidak berguna. Saya sendiri heran, kenapa "Indonesia" mendesak supaya Malaysia meminta maaf. Ibaratnya ada orang berbuat salah pada kita lalu kita berteriak-teriak supaya orang itu meminta maaf "Ayo...minta maaf dong....minta maaf......" . Minta maaf kan timbul dari kebutuhan nurani diri sendiri....lha kalo merasa ga perlu ya ga usah. Kalau hubungan antar negara yah...tergantung dari kebutuhan politik & sosial negara itu sendiri kali ye........ Kalo ga butuh ya udah, kita (Indonesia) juga ga butuh kok *mode gengsi ON , selesaikan saja sesuai peraturan yang berlaku. Daripada menyuruh mereka (Malaysia) meminta maaf mendingan nyuruh mereka bayar aja.....(ha ha ha masih kebawa imbas jadi bendahara ;p ).

Begitu juga dalam hubungan antar manusia. Apabila seseorang meminta maaf karena desakan dari orang ketiga, bagi saya sih itu tidak perlu, karena kembali lagi, menurut saya maaf adalah kebutuhan nurani seseorang, bukan kebutuhan orang lain yang disakiti/dikecewakan atau apalah itu namanya. Untuk orang yang telah disakiti/dikecewakan, perasaan kecewa/ter-rendahkan/tersakiti itu menjadi PR kehidupan baginya yang perlu dilewati dengan keikhlasan. Bagaimanapun apa yang kau tabur pastilah kau tuai , entah kapan engkau menaburnya karena percaya atau tidak kepada-NYA, Ia tetap MAHA ADIL. Serta menjadi seorang yang ikhlas adalah suatu kepentingan untuk dapat kembali ke asal mula hidup. Katakan saja "Yah....sudahlah...." tanpa tergantung dari tindakan orang lain. Apakah orang itu meminta maaf atau tidak, maafkanlah supaya engkau tetap bahagia (maaf ya.....ngomong itu ternyata lebih gampang :D ) . Perlu proses tentunya.

Ya ya ya...jaman kan sudah maju....apa masalahnya sih meminta maaf melalui telepon, email, mesin fax, sms toh isinya tetap meminta maaf.

Yah....perlu diketahui, semaju-majunya jaman,se-berkembang-kembangnya pikiran, hati tetaplah primitif.