Tahukah anda bahwa pada jaman baheula, ketika banyak orang berpikir bangsa kita adalah bangsa tertinggal, tak beradab (terlalu berlebihan sih kalo ini :p ) , tak berpendidikan, tak berpengetahuan, kuno, pemikir-pemikir jaman dahulu tersebut telah memeras otak dan hati untuk menyampaikan kepada umat manusia akan pentingnya sex education. (he he...kira-kira pembukaan saya nantinya akan nyambung ga ya sama cerita yang akan disampaikan :P )
Ketika pemikir dunia barat sibuk dengan sex education yang ditujukan untuk kenikmatan dan kepuasan serta kesehatan/keamanan pelakunya, pemikir dunia timur memiliki visi jauh ke depan yaitu sex education yang nantinya akan membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia bagi dunia. Iya, saya ga bohong, sex education yang diajarkan oleh pemikir timur ini ditujukan untuk suatu tujuan yang lebih luas dan lebih mulia. Apa sih yang bisa membawa kesejahteraan bagi umat manusia ? Tak lain ialah terciptanya manusia-manusia yang berbudi luhur. Sebenarnya dunia ini mau indah atau buruk itu tergantung dari manusia yang hidup di dalamnya bukan ?
Para pemikir timur menyampaikan pemikirannya melalui sebuah cerita. Ya', membuat cerita dan mitos2 adalah suatu cara jitu yang sering dilakukan oleh pemikir jaman dulu untuk menyampaikan suatu ide penting kepada masyarakat umum agar tujuan dari ide tersebut terpenuhi (walaupun cerita2nya sering bokis :p ).
Langsung saja, salah satu cerita yang dipakai para pemikir timur tersebut menyampaikan sex education-nya yaitu melalui cerita Ramayana. Saya tidak tahu secara pasti apakah ini termasuk dalam cerita Ramayana versi India atau Indonesia (saya kira sih versi Indonesia) .
Salah satu bagian dari cerita Ramayana adalah mengenai perang antara Raja Lokapala dengan ayahnya Begawan Wisrawa. Begini ceritanya.
Lokapala dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Wisrawa yang kemudian mengundurkan diri dari percaturan kehidupan duniawi karena memilih untuk hidup sebagai seorang begawan (pendeta Hindu) yang artinya harus meninggalkan kesenangan duniawi dan menyerahkan kekuasannya kepada anaknya Prabu Danaraja.
Suatu ketika, Prabu Danaraja meminta tolong pada ayahnya untuk membantunya memenangkan lomba demi memperebutkan putri cantik yang bernama Dewi Sukesi. Singkat kata si begawan memenangkan lomba, namun karena terpikat dengan kecantikan Dewi Sukesi, akhirnya si begawan pun menikahi Dewi Sukesi.
Dari hasil pernikahan mereka lahirlah seorang anak. Anak ini berbadan raksasa, berwajah 10 maka diberi nama Dasamuka dan berbudi pekerti sangat buruk. Si begawan merasa sedih. Bagaimana mungkin anaknya berbadan raksasa padahal orang tuanya berbadan manusia biasa. Dalam kesedihan itu akhirnya si begawan sadar. Hal itu diakibatkan karena dirinya terlalu masyuk dengan kenikmatan duniawi sehingga lupa dengan kewajiban suci yang diembannya sebagai seorang manusia, berbakti kepada Sang Pencipta.
Dalam proses memperbaiki diri itu, lahirlah putra kedua si begawan. Seorang raksasa juga, buruk rupa namun berbudi pekerti luhur. Walau anak yang ketiga ini berbudi pekerti luhur, namun si begawan masih kecewa karena secara fisik anaknya tidaklah normal seperti yang diharapkan. Tak disadari si begawan larut dalam kekecewaan dan kembali masyuk dalam gemerlapnya dunia.
Terlahir kemudian anak yang ketiga, seorang raksasa wanita, buruk rupa dan berwatak jahat. Saat itulah si begawan merasa bersalah telah kembali masyuk dengan duniawi dan melupakan kewajiban sucinya (berbakti pada Tuhan YME) . Lalu ia bertobat dan memohon ampun pada Sang Pencipta akan kesalahan yang telah dilakukannya. Pertobatan tanpa suatu pengharapan.
Lahirlah anak terakhir, anak ke-empat yang kemudian diberi nama Wibisana. Wibisana ini terlahir normal (bukan raksasa) dan berbudi pekerti luhur.
Nah, dari cerita di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang namanya sex bukanlah hal yang
:.Prihatin dengan kasus Maria Eva dan Yahya Zaini.: (he he..udah basi yaks :p)


