Mulanya saya sangat percaya akan hal ini. Hingga akhirnya tersadar, bahwa semua kekuasaan ialah kekuasan Allah.
Hal ini yang melatar belakangi penulisan Have no choice.
Berapa banyak teman yang berucap "Aku akan menikah umur ....." namun hingga umur terlewati statusnya masih single, atau teman-teman (bukan hanya 1 tapi banyak) yang batal menikah dengan pasangan yang sudah lama ia jalini kasih.
Dari situ saya berpikir dan merasa2, untuk hal-hal seperti ini memang di luar kemampuan diri untuk membuat penentuan. Terutamanya karena hal seperti ini melibatkan perasaan, diri, dan jiwa orang lain.
Saya percaya, sawiji-wijining jiwa nduwe kuwajiban wales winales kabecikan ning alam ndonya kang wis ditemtokake, kurang lebihnya begitu kata orang tua ketika saya bertanya, kenapa harus terlibat perasaan dengan orang tertentu, kenapa bukan orang yang lain saja. Dalam bahasa gaulnya maksud orang tua tadi, ya.....karena saya punya hutang kebajikan dengan jiwa orang itu di masa lalu yang harus ditebus di masa kini.
Karena itu, saya kira, ketika keputusan penting itu diambil, itu bukanlah keputusan dari hasil persidangan angan-angan ataupun alam pikiran. Tetapi sesuatu dari dalam diri yang memutuskan, sehingga bibirpun tergerak untuk mengatakan "Ya".
Eh, tapi tidak memilih dan membiarkan Sang Empunya yang memutuskan itu juga pilihan yah....... memilih untuk tidak memilih....... (halah.......kok malah mbolak mbalik ngene :P )
Friday, June 1, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
