Friday, September 7, 2007

Maaf

Akhirnya Malaysia minta maaf menjadi topik hangat di media massa tanah air sepekan ini. Kompas hari ini memuat komentar Amien Rais mengenai cara meminta maaf Malaysia yang melalui telepon dinilainya tidak seperti dengan apa yang diharapkan bangsa Indonesia.
Permintaan maaf ini baru dikeluarkan setelah beberapa hari kasus terjadi dan setelah berbagai kecaman serta desakan dari beberapa elemen masyarakat di Indonesia.

Cara sang perdana menteri yang hanya meminta maaf melalui telepon pun dipermasalahkan.

Yah, Maaf, kata yang hanya terangkai dari 3 huruf.

Saya tidak tahu mengenai tata cara permohonan maaf antar negara. Kata jubir kepresidenan, pernyataan maaf melalui telepon itu memiliki tingkat keseriusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan melalui konferensi pers. Tapi waktu saya balita, orang tua mengajarkan (insya Allah akan saya ajarkan juga pada keturunan saya kelak ^_^ ) bila akan meminta maaf haruslah menemui orang tersebut serta berjabat tanganlah lalu ucapkan kata maaf. Email berantai berformat .pps yang sering diterima malah mengatakan bahwa salah satu resep hidup bahagia dari Cina adalah dengan meminta maaf bila berbuat salah dengan cara pandanglah mata orang tersebut serta katakanlah : maaf.

Berkaitan dengan permintaan maaf Malaysia, menurut saya (menurut saya lho....yang bisa saja salah) bila itu dilakukan karena desakan dari Indonesia supaya mereka meminta maaf, sangatlah tidak berguna. Saya sendiri heran, kenapa "Indonesia" mendesak supaya Malaysia meminta maaf. Ibaratnya ada orang berbuat salah pada kita lalu kita berteriak-teriak supaya orang itu meminta maaf "Ayo...minta maaf dong....minta maaf......" . Minta maaf kan timbul dari kebutuhan nurani diri sendiri....lha kalo merasa ga perlu ya ga usah. Kalau hubungan antar negara yah...tergantung dari kebutuhan politik & sosial negara itu sendiri kali ye........ Kalo ga butuh ya udah, kita (Indonesia) juga ga butuh kok *mode gengsi ON , selesaikan saja sesuai peraturan yang berlaku. Daripada menyuruh mereka (Malaysia) meminta maaf mendingan nyuruh mereka bayar aja.....(ha ha ha masih kebawa imbas jadi bendahara ;p ).

Begitu juga dalam hubungan antar manusia. Apabila seseorang meminta maaf karena desakan dari orang ketiga, bagi saya sih itu tidak perlu, karena kembali lagi, menurut saya maaf adalah kebutuhan nurani seseorang, bukan kebutuhan orang lain yang disakiti/dikecewakan atau apalah itu namanya. Untuk orang yang telah disakiti/dikecewakan, perasaan kecewa/ter-rendahkan/tersakiti itu menjadi PR kehidupan baginya yang perlu dilewati dengan keikhlasan. Bagaimanapun apa yang kau tabur pastilah kau tuai , entah kapan engkau menaburnya karena percaya atau tidak kepada-NYA, Ia tetap MAHA ADIL. Serta menjadi seorang yang ikhlas adalah suatu kepentingan untuk dapat kembali ke asal mula hidup. Katakan saja "Yah....sudahlah...." tanpa tergantung dari tindakan orang lain. Apakah orang itu meminta maaf atau tidak, maafkanlah supaya engkau tetap bahagia (maaf ya.....ngomong itu ternyata lebih gampang :D ) . Perlu proses tentunya.

Ya ya ya...jaman kan sudah maju....apa masalahnya sih meminta maaf melalui telepon, email, mesin fax, sms toh isinya tetap meminta maaf.

Yah....perlu diketahui, semaju-majunya jaman,se-berkembang-kembangnya pikiran, hati tetaplah primitif.

0 comments: