Matahari baru beberapa jam menguarkan auranya, danau di fakultas teknik UI dengan anggun membiaskan sinarnya memberikan spektrum warna yang begitu indah bagi yang memandang, ketika tiba-tiba mas bule bertanya "Pekerjaan seperti apa yang kamu mau ?"
Saya masih ingat ketika seorang kawan menyarankan untuk mencoba semua jenis pekerjaan sebelum memutuskan satu yang pasti. Pernah saya ikuti sarannya itu, melamar pekerjaan dengan acak, alhasil gagal karena saya melalui tesnya tidak dengan sepenuh hati, ada semacam kebimbangan dan perasaan tidak nyaman setiap pertanyaan berkaitan dengan motivasi dimunculkan. Karena motivasi saya memang hanya coba-coba he he he.....Meskipun di antara yang coba-coba itu ada satu yang berhasil, dan besok Senin adalah hari pertama saya bekerja, yah begitulah rencana Sang Empunya Hidup.
Kembali ke pertanyaan tadi. Saat itu jujur saya katakan, saya sendiri tidak bisa mendekripsikan pekerjaan apa yang saya inginkan dengan tepat. Terlalu premature rasanya untuk bisa memastikan pekerjaan yang tepat bagi saya. Saya hanya tahu garis besarnya, dan dengan bermodal pengetahuan yang cekak itu sejumlah lamaran dikirim, sebagai usaha untuk memenuhi tuntutan-Nya agar Ia dapat menyalurkan kehendak-Nya yang abadi.
Jawaban yang terlontar saat itu, "Yah....saya terlalu berhati-hati untuk hal semacam ini, sama seperti menentukan pasangan." Mas Bule menjawab, "Ya, mencari pekerjaan mirip seperti mencari jodoh bahkan harus lebih berhati-hati memilih pekerjaan daripada memilih jodoh." . "Oh ya ? Mengapa ?" tanya saya. "Kamu harus benar-benar bekerja di tempat yang kamu sukai. Karena frekuensimu bertemu dengan pekerjaan lebih banyak daripada bersama keluarga. Saya bertemu dengan keluarga hanya di malam hari dan hari Sabtu - Minggu. Hampir seluruh waktu hidup saya dihabiskan di kantor." jawabnya.
Saat itu saya hanya mengiyakan saja. Tapi tahukah mas Bule, pekerjaan tidak akan terus dihadapi sampai akhir hayat. Ada masa ketika pekerjaan harus dihentikan dan mempersiapkan pekerjaan selanjutnya yang jauh lebih penting. Untuk itu dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup menjadi jauh lebih penting, karena ia adalah partner di saat menyiapkan persyaratan lamaran yang perlu terus menerus dilakukan selama hayat masih di kandung badan.

4 comments:
setuju dengan point terakhir.
tambahan, mungkin gak si mas bule beranggapan demikian karena dia seorang "mas". maksudku, apa pria dan wanita beranggapan beda soal ini?
just a thought.
So? Gimana kerjaan baru mu?
Aku menulis seratus surat,
menulis seratus jalan
Tampaknya tak kau baca selembar surat pun,
tampaknya tak kau ketahui satu jalan pun !
(D 2572)
Saya sepakat denganmu Cinta,
Soal penyerahan hati,
Sungguh,
Ini bukan sekedar soal lempar dadu !
Ini adalah suatu Kepastian Yang Tak Terbantahkan !
Ketahuilah Duhai Rembulan,
Akulah matahari-mu.
Buat Raras ? (diriku tidak membocorkan blogmu loh.... he he he) I'm blank 'bout man for this topic. I thought I really understand them (men), but.... I think I never can comprehend them. Yeah....pria memang tidak untuk dipahami, tapi dimaklumi ;)
Buat Mas Boe : Nice Mas. I really enjoy it, and that's the point :)
Garudeya : Let Lord show Thy way :) we neva know......
Post a Comment